Laman

Kamis, 09 September 2010

Saat Pintu Surga Terasa Begitu Dekat




Tidak terasa bulan ramadhan hampir menuju akhir hari, tidak terasa sebulan penuh kita telah menahan lapar dan dahaga, tidak terasa pula hati kita telah semaksimal mungkin kita jaga dari segala hal yang akan menodai makna puasa yang tengah kita jalani.

Telah sebulan penuh kita curahkan siang kita untuk mencari rizki Allah dan malam nya kita curahkan untuk mencari ridho Allah atas ibadah yang tengah kita lakukan, sebulan penuh kita tundukan nafsu kita, kita tundukan kesombongan kita, kita sujudkan hati diri kita semata-mata mencari ridho Allah, berharap segala amal ibadah puasa kita dapat diperhitungkan dan dicatat sebagai amal ibadah kita untuk Allah, karena sejatinya puasa lah satu-satu nya ibadah yang diperuntukan hanya untuk Allah.

Kemudian di awal pagi setelah berakhirnya Ramadhan kita akan disibukan dalam sebuah ritual yang menggambarkan runtuh nya dinding kesombongan hati, saat kita dengan ihklas meminta dan memberi maaf atas kesalahan yang kita perbuat dan atas kesalahan yang orang lain lakukan terhadap kita, pada saat itu seakan-akan dinding perbedaan tidak tampak lagi, hilang, sirna tanpa bekas, berbalut baju hati yang sama, masing-masing kita berbondong-bondong berusaha menunjukan keikhlasan hati dalam berjabat tangan, kemudian berucap kata maaf, kadang kala sedikit diselingi tawa canda atau bahkan isak tangis, saat itu lah damai nya Islam terasa begitu dekat, begitu dekat.

Demikian pula perasaan saat bersimpuh dan menundukan muka serta mencium kaki Ibu dan Ayah, adalah sebuah luapan perasaan yang tidak akan mungkin pernah tergantikan, melalui keduanya lah kita ada di dunia ini, melalui doa keduanya pula kita mampu memandang tegak dunia, melalui tangan-tangan keduanya kita belajar akan kasih dan sayang, sungguh sebuah perasaan damai yang sulit untuk tergantikan, mengingat seringkali kita masih saja melupakan keduanya, masih belum bisa berbuat yang terbaik untuk keduanya, masih terlalu sering menyakiti kedua nya namun, seakan akan pada hari itu pintu surga sebagaimana yang telah dijanjikan benar-benar terbuka lebar di bawah telapak kaki keduanya.

Saat itu lah air mata mulai menetes mengalir di pipi, meski dengan perlahan namun, tetesannya seakan mampu memberikan kilas balik akan segala salah dan dosa yang telah kita perbuat kepada keduanya, tetes harapan akan sebuah kata ampunan dari Ibu dan Ayah, kemudian dengan lembut tanpa diminta, terucap sebuah kata termerdu yang pernah kita dengar “ Ibu maafkan salah mu nak,, begitu pun Ibu, maaf kan jika Ibu pernah bersalah pada mu, maaf jika Ibu belum benar-benar bisa memahami mu, Ibu pun sejatinya masih belajar, bukan kah hidup adalah sebuah lingkungan pendidikan yang paling sempurna, maaf kan Ibu ya nak “, .. “ Ayah pun menerima maaf mu, anak ku, maafkan Ayah pula, Ayah sadar dalam perjalanan hidupmu kadangkala ada satu titik dimana Ayah tidak ada disana, engkau adalah sebuah amanah bagi kami, jika dalam usaha kami menjaga amanah tersebut terdapat hal yang menyinggung hatimu, maaf kan kami ya nak “.

Sungguh sebuah perwujudan kesempurnaan hati, hati yang telah lama ditempa oleh waktu, hati yang telah sering ditempa oleh suka dan sedih nya hidup, hati yang seakan tidak mempunyai sedikitpun ruang benci di dalam nya meski hanya secuil, perwujudan kasih dan sayang yang begitu sempurna, sering kali tersakiti, sering kali di lupakan namun, dengan begitu anggun dan rendah hati, mereka mengucap kata maaf, masihkah kita lupa akan keduanya, melupakan Ibu dan Ayah, melupakan tawa dan tangisnya, masihkah kita akan menyakiti hati keduanya.

Di bulan penuh ampunan ini, bukankah sudah seharusnya kita manfaatkan untuk lebih dan lebih lagi memberikan yang terbaik untuk Ibu dan Ayah, sebuah perwujudan pengabdian seorang anak kepada orang tuanya, sebuah bentuk kepatuhan seorang hamba atas perintah Tuhannya, Tuhan yang bahkan meletakan surga dibawah kaki keduanya.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

0 comments: