Masih dengan rukuh menempel di badan, Bunda yang di dampingi oleh Ayah, duduk dengan senyum tersungging menandakan kegembiraan yang tengah membuncah di dada nya, dengan anggun beliau mulai memanggil satu per satu belahan jiwanya, dengan panggilan sayang yang menandakan betapa Bunda adalah sosok yang tak lekang oleh waktu, tanpa melihat umur kami yang sudah beranjak dewasa, beliau masih menggangap kami adalah malaikat-malaikat kecilnya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba lah saat dimana seorang anak, betapa pun besar nya dunia yang ia genggam, betapapun luas nya samudera yang telah ia arungi, tibalah saat nya dimana ia harus bersimpuh di kaki termulia yang bisa ia dapati, sepasang kaki yang telah menapaki keras dan tajam nya hidup ini hanya demi memuliakan dirinya sebagai seorang anak.
“Bun, maaf kan nanda, atas segala salah yang telah nanda perbuat, tiada maksud untuk membangkang, tiada pula maksud untuk menyakiti, atau dengan sengaja menjadi seseorang yang menorehkan luka di hati Bunda “ … … … terdiam sesaat.
Kemudian “ ,,, bukan maksud nanda berbuat demikian, nanda hanya bertindak atas dasar sesuatu yang menurut nanda benar adanya, bukankah Bunda mengajarkan nanda untuk tidak mengikuti yang salah, atau membiarkan sebuah kesalahan menjadi berlarut-larut, sekali lagi, setidaknya itulah yang menurut nanda benar, maaf jika hal tersebut menyakiti Bunda, maaf jika hal tersebut membuat air mata Bunda menetes sedih, kesedihan Bunda adalah kesedihan nanda, kepedihan Bunda adalah kepedihan nanda, maaf jika kadang nanda terlalu keras kepala untuk menerima kelembutan dan senyum yang Bunda tawarkan, maaf kan nanda "
Dengan lembut, selembut buaian angin senja hari, Bunda pun menjawab “ Anak ku, engkau adalah anak ku, sekeras apapun dirimu, Bunda akan menjadi selembut apa pun untuk menyambut mu, sebesar apa pun kesedihan yang engkau guratkan, Bunda akan menjadi sekuat yang Bunda bisa untuk bisa menerima kesedihan itu, setajam apapun kata yang keluar dari dirimu, Bunda akan menjadi setenang mungkin untuk mendengarkan ucapan mu, karena engkau adalah anak ku, bukankah sudah tugas Bunda untuk memberikan keteduhan dalam setiap langkah mu, memberikan cahaya dalam setiap gelap mu, sudah menjadi tugas Ibu untuk melihat anak nya menjadi sebaik-baik nya manusia “
“ Iya Bun, nanda tahu, dan nanda mengerti, Bunda sudah berbuat sekuat yang Bunda mampu, dalam ampunan Bunda, sudikah Bunda memberikan petunjuk untuk nanda gunakan sebagai penanda arah, sebagai cahaya penerang dalam menerangi langkah nanda, yang adakalanya nanda pun bingung dalam melalui nya, begitu banyak mimpi, yang kadang nanda bingung harus memulai dari mana “
Setelah terdiam sesaat Bunda pun berujar , dengan kelembutan yang tidak berubah, hanya kali ini terdapat penekanan dalam setiap ucapannya “ Anak ku, engkau adalah anak ku, engkau berhak atas dunia ini dan engkau pun berhak atas impian setinggi langit dan sedalam bumi, jadi lah apapun yang engkau suka, raihlah apa pun yang engkau mau, bahkan jika perlu tumbangkan dunia di bawah kaki mu, karena engkau anak ku “
“ Akan tetapi dengar kan pesan Bunda yang berikut, jadilah bibit yang tumbuh gagah di atas bukit yang tinggi namun, jika engkau tidak bisa, jadilah saja belukar yang tumbuh dan memperindah sisi danau, jika engkau masih tidak mampu menjadi belukar, jadilah saja rumput, tapi rumput yang tumbuh dan memperkuat tanggul sisi jalan, jika engkau tidak bisa menjadi jalan besar, jadilah saja jalan kecil, jalan setapak yang mampu mengarahkan seseorang ke sebuah mata air, karena anak ku, tidak selalu semua harus menjadi nahkoda, tentu harus ada yang menjadi awak kapal nya “
“Bukan besar kecil nya tanggung jawab yang menentukan tinggi rendah nya nilai dirimu, dirimu lah yang menentukan nilai dirimu, maka, jadilah sebaik-baik nya dirimu “ ,,, " Karena engkau anak ku "
Seusai kata terakhir tersebut air mata pun mengalir dari mata indah nya, mata yang telah melalui panjang dan keras nya hidup, mata yang telah meneduhi kami dari panas dan hujan, mata yang menunjukan kelapangan atas ampunan, keihklasan, serta harapan dan cahaya bagi hari esok yang jauh lebih baik.
Selasa, 30 Agustus 2011
Maaf II
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 comments:
kasih sayang ibu,,
tulus ikhlas, tanpa harap balas,,,
rela brkorban,,
Tak dapat ditandingi oleh,, jernihnya mata air., pegunungan..
Dalamnya samudra,,.
Harta melimpah...
Beliau yg brjuang hidup dan mati,, dan membimbingku saat tubuh ini tak punya daya, hanya dpt memberinya lagak lucu n keceriaan yg buat dia trsenyum,,,
Dan ku hanya dpt menangis saat meminta tolong darinya, bahkan gangu tdrnya tuk hanya minta diperhatikan n dimanja...
Maha besar Allah swt, yg tlah memberi tempat spesial, tuk seorang ibu,,
Bahkan doa restu serta surgaku ada ditelapak kakinya....
**aduh jd ingat saat sungkem seminggu yg lalu, nih ~.~
Maaf mas, komenku panjang nih hehehe
Poskan Komentar